Sabtu, 18 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Ngeri ..!! Inilah Besarnya Dosa Orang yang Meninggalkan Shalat
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa IA berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus …kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala IA berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. Cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang IA menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
“Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
———————————————————————–
Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH . Abdurrahman Arroisy
———————————————————————–
Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH . Abdurrahman Arroisy
Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi Dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian IA mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Rabu, 08 Februari 2012
Contoh Keberanian Para Ulama Di Hadapan Penguasa
1. Dikisahkan bahwa Hisyâm bin ‘Abdul Malik datang ke Baitullah, Ka’bah untuk melakukan manasik haji. Ketika masuk ke Masjid al-Haram, dia berkata, “Tolong hadirkan ke hadapanku salah seorang dari kalangan para shahabat.!”
Lalu ada orang yang menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, mereka semua sudah meninggal dunia.”
Lalu dia berkata lagi, “Kalau begitu, dari kalangan tabi’in saja.”
Maka dihadirkanlah Thâwûs al-Yamâny. Tatkala menemui sang Amir, dia mencopot kedua sandalnya di pinggir permadaninya dengan tidak memberi salam terlebih dahulu dan tidak pula memanggilnya dengan julukannya (kun-yah), lantas duduk di sampingnya tanpa idzin pula seraya berujar,
“Bagaimana kabarmu wahai Hisyâm.?”
Maka meledaklah kemarahan sang Amir sehingga ia hampir saja berkeinginan untuk membunuhnya, namun kemudian ada yang mencegahnya seraya berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, engkau saat ini berada di kawasan Haram Allah dan Rasul-Nya (Ka’bah) yang tidak boleh hal itu terjadi.”
Maka Hisyam berkata, “Wahai Thâwûs, apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti itu tadi.?”
“Apa gerangan yang telah aku perbuat,?” balas Thâwûs
“Engkau telah mencopot kedua sandalmu di pinggir permadaniku, tidak memberi salam dengan menyapa, ‘Wahai Amirul Mukminin,’ tidak memanggilku dengan julukanku lalu duduk di sampingku tanpa idzin,” kata Hisyâm
“Adapun kenapa aku mencopot kedua sandalku di pinggir permadanimu, karena aku sudah biasa mencopotnya kala berada di hadapan Allah Ta’ala setiap hari, sebanyak lima kali akan tetapi Dia tidak mencela ataupun marah kepadaku. Adapun ucapanmu ‘engkau tidak memberi salam kepadaku dengan menyapa, ‘wahai Amirul Mukminin’’ karena tidak setiap Muslim setuju atas naiknya engkau ke tampuk kekuasaan. Jadi, aku takut kalau menjadi seorang pendusta (dengan menyapamu sebagai Amir semua orang-orang beriman-red.,). Mengenai perkataanmu ‘engkau tidak memanggilku dengan julukanku’ karena Allah Ta’ala juga menamai para Nabi-Nya, lalu memanggi mereka; ‘wahai Daud’ ‘wahai Yahya’ ‘wahai ‘Isa’ bahkan Dia malah menyebut musuh-musuh-Nya dengan julukan dalam firman-Nya, ‘Celakalah tangan Abu Lahab.’ Sedangkan ucapanmu, ‘kamu duduk di sampingku (tanpa idzin), maka hal itu karena aku telah mendengar ‘Aly bin Abi Thalib RA., berkata, ‘Bila kamu ingin melihat salah seorang penghuni neraka, maka lihatlah kepada seorang yang duduk sementara orang-orang di sekitarnya berdiri menghormatinya,” jawab Thâwûs
Kemudian Hisyam berkata, “Kalau begitu, nasehatilah aku.”
Maka Thâwûs berkata, “Aku mendengar ‘Aly bin Abi Thalib RA., berkata, ‘Sesungguhnya di neraka Jahannam terdapat ular-ular dan kalajengking seperti bagal (peranakan antara kuda dan keledai) yang mematuk setiap Amir (Penguasa) yang tidak berlaku adil terhadap rakyatnya.”
2. Diriwayatkan bahwa Abu Ghayyâts, seorang ahli zuhud selalu tinggal di sekitar pekuburan Bukhara, lalu suatu ketika datang ke kota untuk mengunjungi saudaranya. Kebetulan bersamaan dengan itu, putera-putera Amir Nashr bin Muhammad (penguasa setempat) barusan keluar dari kediamannya bersama para biduan dan alat-alat bermain mereka. Tatkala melihat mereka, sertamerta Abu Ghayyâts berkata,
“Wahai diriku, telah terjadi sesuatu yang bila engkau diam, berarti engkau ikut andil di dalamnya.”
Lalu dia mengangkat kepalanya ke langit sembari memohon pertolongan Allah. Kemudian mengambil tongkat lalu menggebuki mereka secara serentak sehingga mereka pun lari kocar-kacir menuju kediaman sang penguasa (Amir). Setibanya di sana, mereka menceritakan kejadian tersebut kepada sang penguasa.
Maka, sang penguasa pun memanggil Abu Ghayyâts seraya berkata,
“Tidak tahukah kamu bahwa siapa saja yang membangkang terhadap penguasa, dia akan diberi makan siang di penjara.?”
“Tidak tahukah kamu bahwa siapa saja yang membangkang terhadap ar-Rahmân (Allah), dia akan makan malam di dalam neraka,?” balas Abu Ghayyâts
“Kalau begitu, siapa yang memberimu wewenang melakukan Hisbah (Amr Ma’ruf Nahi Munkar) ini,?” tanya Amir
“Dia adalah Yang telah mengangkatmu ke tampuk kekuasaan ini,” jawab Abu Ghayyâts
“Yang mengangkatku adalah sang Khalifah,” kata Amir
“Kalau begitu, Yang mengangkatku melakukan Hisbah adalah Tuhannya sang khalifah,” jawab Abu Ghayyâts
“Aku hanya mengangkatmu melakukan Hisbah di daerah Samarkand saja,” kata Amir
“Aku sudah mencopot diriku dari bertugas di sana,” jawab Abu Ghayyâts
“Aneh kamu ini, engkau melakukan Hisbah di tempat yang tidak diperintahkan kepadamu dan menolak melakukannya di tempat kamu diperintahkan,?” kata Amir lagi
“Sesungguhnya jika engkau yang mengangkatku, maka suatu ketika kamu akan mencopotku akan tetapi bila Yang mengangkatku adalah Rabbku, maka tidak akan ada seorangpun yang dapat mencopotku,” tegas Abu Ghayyâts pula
“Baiklah, sekarang mintalah apa keperluanmu,!” tanya Amir akhirnya
“Yang aku perlukan adalah kembali lagi ke masa muda,” kata Abu Ghayyâts
“Wah, itu bukan wewenangku, mintalah yang lain,!” kata Amir
“Kalau begitu, tulislah kepada Malaikat Malik, penjaga neraka, agar tidak menyiksaku kelak,” kata Abu Ghayyâts
“Wah, itu bukan wewenangku juga, mintalah yang lainnya,!” kata Amr
“Kalau begitu, tulislah kepada malaikat Ridlwân, penjaga surga, agar memasukkanku kelak ke dalam surga,!” jawab Abu Ghayyâts
“Wah, itu juga bukan wewenangku,” kata Amir lagi
“Kalau begitu, keperluanku hanya kepada Allah Yang merupakan Pemilik semua keperluan dan kebutuhan, Yang tidaklah aku meminta kepada-Nya suatu keperluan melainkan pasti Dia akan mengabulkannya,”jawab Abu Ghayyâts
Atas jawaban tegas dan brilian itu, akhirnya Abu Ghayyâts dibebaskan oleh sang Amir bahkan dia malah salut dengan keimanan dan keberaniannya.
(SUMBER: Buku Mi`ah Qishshah Wa Qishshah Fî Anîs ash-Shâlihîn Wa Samîr al-Muttaqîn disusun oleh Muhammad Amîn al-Jundy, Juz II, h.29-33)
Tanda-tanda Kematian : Imam Al-Ghazali
Salaam...
Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan, mendapati tanda-tanda kematian dirinya sehingga beliau mampu menyiapkan diri untuk menghadapi sakratulmaut secara sendirian. Beliau menyiapkan dirinya dengan segala persiapan termasuk mandinya, wudhuknya serta kafannya sekali. Cuma ketika sampai bahagian tubuh dan kepala saja beliau telah memanggil abangnya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk meneruskan tugas tersebut. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafankan baian wajahnya.
Semua tanda-tanda ini akan berlaku kepada orang-orang Islam saja, manakala orang-orang kafir yaitu orang yang menyekutukan Allah nyawa mereka ini akan terus di rentap tanpa adanya peringatan/tanda sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT. Adapun tanda-tanda ini terbahagi kepada beberpa keadaan :
Tanda 100 hari sebelum kematian
Tanda ini akan berlaku umumnya setelah waktu Ashar. Seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut sehingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil. Contohnya, seperti daging sapi yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar.
Tanda ini rasanya nikmat, dan bagi mereka yang sadar dan terbetik di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan duniawi tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan hilang begitu saja tanpa ada manfaatnya.
Tanda 40 hari sebelum kematian
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Ashar. Bagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Arasy-nya Allah SWT. Maka saat itu malaikat maut (Izrail) akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persiapannya kepada kita diantaranya ialah dia akan mulai mengikuti kita sepanjang itu.
Akan terjadi dimana malaikat maut (Izrail) ini akan memperlihatkan wajahnya sepintas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika.
Tanda 7 hari sebelum kematian
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan dimana orang sakit yang tidak makan (tak berselera) secara tiba-tiba berselera untuk makan.
Tanda 3 hari sebelum kematian
Pada ketika ini akan terasa denyutan dibagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi. Dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bagian sisi/samping. Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk kedalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.
Tanda 1 hari sebelum kematian
Akan berlaku sesudah waktu Ashar dimana kita akan merasakan satu denyutan disebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun dimana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Ashar keesokan harinya.
Tanda Akhir
Akan berlaku keadaan dimana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bagian pusat lalu rasa itu aka turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bagian tenggorokkan. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimat syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.
Kubur/liang lahat Setiap Hari Menyeru
kepada Manusia Sebanyak 5 Kali.
Aku rumah yang terpencil, maka akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
Aku rumah yang gelap, maka terangilah aku dengan selalu sembahyang malam.
Aku rumah yang penuh tanah dan debu, bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
Aku rumah ular berbisa, maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawarnya.
Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nankir, maka banyaklah bacaan
Laa illaa ha illallah, Muhammadur Rasulullah supaya kamu dapat menjawabnya.
SUDAHKAH ANDA RASAKAN SEBAGIAN DARI TANDANYA….???
Senin, 10 Oktober 2011
" Riya'...Membinasakan Ibadat "
Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Wallahu A'lam Bishawab
Alhamdulillahirabbil'alamin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Pada suatu waktu sahur, seorang abid membaca Al-Quran, surah "Thoha", di biliknya yang bersebelahan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa amat mengantuk, lalu tertidur.
Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa kitab Al-Quran.
Lelaki
itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya.
Dibukakannya surah "Thoha" dan dijabarkannya halaman demi halaman untuk
dilihat si abid. Si abid melihat setiap kalimah surah itu dicatatkan
sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimah saja
yang catatannya dipadamkan.
Lalu katanya, "Demi Allah,
sesungguhnya telahku baca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu
kalimah pun". "Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimah ini
dipadamkan?" Lelaki itu berkata. "Benarlah seperti katamu itu.
Engkau memang tidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. Malah,
untuk kalimah itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami
terdengar suara yang menyeru dari arah 'Arasy : “Padamkan catatan itu
dan gugurkan pahala untuk kalimah itu”. Maka sebab itulah kami segera
memadamkannya".
Si abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata,
"Kenapakah tindakan itu dilakukan?". "Penyebabnya engkau sendiri.
Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di
depan rumah mu. Engkau sadar hal itu, lalu engkau meninggikan suara
bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimah yang tiada
catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu".
Si abid terjaga dari tidurnya.
"Astaghfirullaahal-'Azhim! Sungguh licin virus riya' menyusup masuk ke
dalam kalbu ku dan sungguh besar akibatnya. Dalam sekejap mata saja
ibadahku dimusnahkannya.
Benarlah kata alim ulama', serangan penyakit riya' atau ujub, dapat membinasakan amal ibadat seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun".
Alhamdulillahirabbil'alamin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Minggu, 02 Oktober 2011
" KEWAJIBAN BERSYUKUR "
Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak dari kita yang hafal Al-Qur`an, namun sedikit saja yang memahami maknanya. Pernahkah kita terpikir untuk menyelami makna ayat-ayat Al-Qur`an? Ada satu ayat di dalam surat Al-Fatihah yang sejatinya membuat kita merendahkan hati, mengingatkan kita bahwa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah kewajiban. Untuk berterimakasih kepada Allah, pertama-tama kita harus mengingat akan karunia yang telah kita dapatkan, dan kita pun harus menyadari bahaya yang timbul dikarenakan kita tidak bersyukur. Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya.
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak dari kita yang hafal Al-Qur`an, namun sedikit saja yang memahami maknanya. Pernahkah kita terpikir untuk menyelami makna ayat-ayat Al-Qur`an? Ada satu ayat di dalam surat Al-Fatihah yang sejatinya membuat kita merendahkan hati, mengingatkan kita bahwa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah kewajiban. Untuk berterimakasih kepada Allah, pertama-tama kita harus mengingat akan karunia yang telah kita dapatkan, dan kita pun harus menyadari bahaya yang timbul dikarenakan kita tidak bersyukur. Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya.
Allah SWT menyediakan ruang dan kondisi agar manusia bisa melanjutkan
hidup. Jarak bumi dari matahari memungkinkan ada dan berlangsungnya
kehidupan di planet ini. Satu jarak dari matahari, yang jika lebih dekat
akan membuat makhluk hidup di atasnya akan terpanggang kepanasan; dan
jika lebih jauh, akan membeku kedinginan. Diciptakan-Nya lintasan bumi
berbentuk elips dengar gravitasi yang tepat terukur, tidak bundar, agar
ia tidak tersedot atau terpental dari matahari yang juga berputar. Bulan
dijadikan-Nya sebagai satelit bumi untuk melindunginya dari serangan
komet dan sejenisnya dan menjadikan kecepatan gerak putar bumi tetap
stabil. Diberikan-Nya bumi, gaya gravitasi yang tepat, agar ketika
berjalan kita tidak melayang atau tersedot
Betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada hamba-hamba-Nya. dlm realita kehidupan kita menemukan keadaan yg
memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dlm keingkaran dan kekufuran
kepada Pemberi Nikmat. Puncak adl menyamakan pemberi ni’mat dgn makhluk
yg keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala
Ketahuilah bahwa keni’matan yg berlimpah ruah bukanlah tujuan
diciptakan manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa
Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan
manusia utk sebuah kemuliaan bagi dan menjadikan segala ni’mat itu
sebagai perantara utk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu
adl utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sebagaimana hal
ini disebutkan dlm firman-Nya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.”
Berikut kisah menarik tentang pandangan bersyukur yang pernah terjadi pada Bani Israil.
Umat Nabi Musa a.s. disebut dengan Bani Israil. Kaum ini keturunan
dari Nabi Ishaq a.s yang merupakan anak dari Nabi Ibrahim a.s dari pihak
ibu yaitu siti Sarah, sedangkan dari Nabi Ismail a.s yang beribukan
Siti Hajar maka kelak akan melahirkan keturunan bangsa Arab. Nabi Musa
a.s memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka
panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin.
Suatu
hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa a.s.. Ia begitu
miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin
itu kemudian berkata kepada Baginda Musa a.s., “Ya Nabiullah,
Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar
Allah s.w.t. menjadikan aku orang yang kaya.”
Nabi Musa a.s. tersenyum
dan berkata kepada orang itu,
Si miskin itu agak terkejut dan kesal,
lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun
jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”!.
Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa a.s..
Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada
Nabi Musa a.s., “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t.
permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin,
terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.”
Nabi Musa a.s.pun
tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur
kepada Allah s.w.t.”.
“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur
kepada Allah s.w.t.?. Allah s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya
aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah
s.w.t. telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah
memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku
tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu.
Akhirnya si kaya itu pun
pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah
s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin
menjadi bertambah miskin. Allah s.w.t. mengambil semua kenikmatan-Nya
sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat
di tubuhnya. Ini semua kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.
Wallahu A'lam Bishawab
Alhamdulillahirabbil'alamin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Wallahu A'lam Bishawab
Alhamdulillahirabbil'alamin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
https://www.facebook.com/groups/bijaks/
Kisah Penuh Hikmah dari Luqman Hakim
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada suatu hari Luqman Hakim
telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, dan anaknya
mengikut dari belakang.
Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang-orang pun berkata, ‘Lihat orang tua itu yang tidak punya rasa kasihan karena anaknya dibiarkan berjalan kaki.”
Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang-orang pun berkata, ‘Lihat orang tua itu yang tidak punya rasa kasihan karena anaknya dibiarkan berjalan kaki.”
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang maka Luqman pun
turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu.
Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, “Lihat
orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak saja menaiki himar
itu, sungguh kurang adab anak itu.”
Mendengar kata-kata orang di pasar itu, Luqman pun terus naik ke atas
belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai
kini berkata lagi, “Lihatlah itu dua orang menaiki seekor himar, sungguh
sangat menyiksa himar itu.”
Kerana tidak suka mendengar percakapan orang-orang di pasar itu, maka
Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara
orang berkata, “Dua orang kok berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak
dikenderai, betapa bodohnya mereka”
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai
anaknya tentang sikap manusia dan ocehan mereka, katanya,
“Sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari pergunjingan manusia. Dan hanya orang yang berakal yang akan mengambil pertimbangan hanya kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam setiap urusan hidupnya.”
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya,
“Wahai
anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga
perkara, yaitu
- tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya,
- lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang)
- dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya),
Langganan:
Postingan (Atom)
-
JEJAK LELUHUR ... Ini adalah leluhurku.... Edward Julius (E.J) Kerkhoven. Beliau adalah kakek buyutku, dan beliau pemilik perkebunan teh S...













































